Artikel Kesehatan

5 Rempah-Rempah Untuk Penguat Sistem Imun

Negara kita tercinta tengah diterpa badai corona atau COVID-19. Salah satu cara terbaik untuk mencegah infeksi virus COVID-19 ini adalah dengan menjaga kondisi imun agar tetap prima. Karena sesuai hukum alamiah, virus akan kalah dengan sistem alami yang kita miliki.

Nah, jika Anda orang jawa, mungkin sudah tidak asing dengan yang namanya jamu. Jamu ini sangat dikenal untuk menjaga kesehatan dari berbagai macam penyakit. Bagi masyarakat jawa asli, jamu tidak hanya diminum saat sakit saja.

Ada jamu yang memang diminum sehari hari, dan fungsinya adalah untuk menjaga sistem imun agar terhindar dari segala macam penyakit.

Bahan dasar jamu untuk meningkatkan dan mejaga sistem imun agar tetap prima ini sebenarnya sangat mudah. Dan, semuanya bisa ditemui di dapur di rumah Anda.

Apa saja bahan alami yang bisa menjaga sistem imun ini ?

1. Meniran

Yang pertama ini mungkin jarang ditemui di dapur. Tapi sangat mudah Anda beli di pasar tradisional.

Berdasarkan studi in vitro 2014, ekstrak tanaman meniran ini menunjukkan adanya aktivitas antioksidan yang kuat. Antioksidan tersebut bisa membantu tubuh melawan radikal bebas penyebab kerusakan sel dan penyakit.

Selain itu, penelitian dalam jurnal Phytotherapy Research 2012 juga menyebutkan, bahwa meniran memiliki sifat antimikroba. Terutama meniran dapat melawan mikroba seperti H. pylori yang sering menyebabkan gangguan pada saluran pencernaan; seperti tukak lambung, sakit perut, dan mual.

2. Temulawak

Temulawak tentu salah satu bahan yang identik dengan jamu. Rempah yang bentuknya sangat mirip kunyit ini, mempunyai senyawa curcumin yang jadi senjata ampuh untuk menjaga daya tahan tubuh.

Hal ini diperkuat berdasarkan jurnal Antioxidant and Anti-inflammatory Properties of Curcumin tahun 2007, antioksidan tersebut meningkatkan metabolisme serta mengeluarkan racun yang mengendap di dalam tubuh.

Dalam sebuah penelitian lain juga menemukan kemampuan curcumin dalam merangsang dopamin dan serotonin. Dalam jurnal Antidepressant Activity of Curcumin: Involvement of Serotonin and Dopamine System mengungkapkan, konsumsi temulawak bisa meningkatkan kemampuan otak sekaligus menjaga kestabilan mood.

3. Jahe

Bumbu dapur yang satu ini sangat sering dijadikan wedang, atau minuman hangat. Dan mempunyai sensasi pedas yang melegakan. Jahe diketahui memiliki senyawa gingerrol, zat yang sangat kuat. Sehingga, anjuran untuk minum air rebusan jahe atau wedang jahe sangat diajrukan ketika Anda batuk ataupun flu.

Menurut penelitian Natural Product Communications 2014 menemukan, gingerol dalam jahe bertanggung jawab sebagai anti-inflamasi dan antioksidan yang kuat. Dengan begitu, jahe bisa membantu tubuh melawan radikal bebas dan serangan penyakit lainnya.

4. Serai

Anda suka sambal matah ? tentu sudah tidak asing dengan rempah aromatik yang satu ini.

Serai diketahui kaya akan antioksidan, seperti vitamin C dan flavonoid yang mampu melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas. Selain itu, kandungan antioksidan tersebut juga bisa meningkatkan imunitas tubuh, dan mencegah timbulnya berbagai penyakit.

Selain kandungan antioksidan, serai juga bersifat diuretik yang dapat membantu membuang racun berbahaya dan bahan kimia yang tak diperlukan tubuh, menurunkan kadar asam urat, serta meningkatkan fungsi hati dan ginjal.

5. Kunyit

Setelah tadi temulawak yang bentuknya memang mirip dengan kunyit. Sekarang kita bahan kunyit yang bentuknya mirip temulawak.

Kunyit juga mengandung senyawa kuning curcumin yang bermanfaat menjaga daya tahan tubuh juga kesehatan otak.

Merujuk pada penelitian Department of Pharmacology, Peking University, kunyit dapat meningkatkan kadar brain-derived neurotrophic factor (BDNF) di otak. BDNF adalah hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan saraf otak.

Selain itu, kunyit juga bisa membantu tubuh menangkal radikal bebas. Soalnya kunyit mengandung antioksidan yang bisa menetralkan radikal bebas. Ini bahkan telah terbukti dalam beberapa penelitian, yang salah satunya dipublikasikan dalam jurnal Antioxidants and redox signaling tahun 2005.

 490 total views,  1 views today